Akhir-akhir ini lagi
rame nih berita tentang kasus Bullying yang terjadi di beberapa wilayah di
Indonesia. Sebenarnya arti bullying itu apa si? Bullying sendiri kalo
kita cari padanan kata untuk bahasa Indonesia nya sebenarnya agak sulit tapi ada
satu pengertian yang menurut gua cocok nih. Bullying merupakan suatu bentuk
perilaku agresif yang diwujudkan dengan perlakuan secara tidak sopan dan
peggunaan kekerasan arau paksaan untuk mempengaruhi orang lain, yang dilakukan
secara berulang atau berpotensi untuk terulang, dan melibatkan
ketidakseimbangan kekuatan dan atau kekuasaan. Bullying sendiri dapat mencakup
pelecehan verbal, kekerasan fisik atau pemaksaan dan dapat diarahkan
berulangkali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasaar ras, agama, gender,
seksualitas atau kemampuan. Bullying sendiri dapat terjadi di lingkungan
sekitar rumah, organisasi dan yang cukup sering terjadi yaitu di lingkungan
sekolah. Bullying itu bukan merupakan
sebuah kemarahan yang terjadi atau konflik yang harus diselesaikan, bullying
itu lebih ke perasaan superior seseorang sehingga mereka berhak merendahkan,
melecehkan, menyuruh-nyuruh, mengintimidasi yang lainnya. Dari situ kita bisa
tahu bahwa bullying itu dilakukan oleh seseorang yang merasa dirinya bisa
melakukan apapun kepada orang yang menurut mereka berbeda dari yang lain atau
berasal dari kaum minoritas (Pelaku bullying memiliki rasa intoleran terhadap
perbedaan)
Kenapa bisa begitu?
Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi kenapa Bullying ini masih marak
terjadi di negara kita. Akan gua bahas satu per satu.
Keluarga merupakan guru pertama kita, apa yang kita dapat dari sana akan sangat mudah kita imitasi ke kehidupan kita di luar. Kalo semisal keluarga kita sudah mebiasakan perlakuan intimidasi, kekerasan dan menganggap itu semua hal yang biasa bukan tidak mungkin si anak akan dengan mudah mengimitasi kan perlakuan tersebut kepada teman-teman mereka. Sehingga dengan awa ini yang terjadi di keluarga gua, mereka akan merasa benar dan masa bodoh dengan angan orang lain. Sudah semestinya sebagai orang tua seharusnya tau apa yang harus diajarkan ke anak, apa yang harus diperlihatkan ke anak mereka, apa yang harus sang anak ketahui, bukan malah memperlihatkan semua yang terjadi kepada anak nya. Sebagai anak kita juga seharusnya dapat memfilter apa saja yang baik dari ajaran keluarga dan bisa diterapkan ke kehidupan bersosial
Salah satu faktor lainnya adalah teman sebaya. Yaa teman kita secara langsung ataupun tidak langsung bisa saja memberikan kita stimulus bahwa perlakuan bullying merupakan sesuatu yang wajar dan tidak masalah. Sebagai contoh kita melihat teman kita memperlakukan temannya yang lain dengan perlakuan tidak mengenakan misalnya saja menyuruhnya membelikan jajan dengan perintah yang kasar. Dengan melihat kejadian tersebut kita bisa saja mengasumsikan bahwa itu adalah suatu hal yang biasa, dan selanjutnya bisa saja kita menerapkan apa yang dilihat tersebut kepada teman kita yang lain. Hal ini akan terjadi terus menerus kecuali kita bisa memfilter otak kita dan memutus rantai-rantai bodoh tersebut. Seiring bertambahnya usia fikiran kita mulai berfikir ingin tidak selalu menggantungkan diri ke keluarga bergaul dengan lingkungan sekitar akan lebih baik selain menambah relasi kita juga akan mengetahui sifat dan karakter yang bermacam-macam. Punya banyak temen gak salah kok asal kita bisa ngambil sisi positif dari mereka dan tidak meniru yang negative.
Sebuah survey menyebutkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%). Dari survey tersebut jelas sekali bahwa media sangat sangat mempengaruhi pertumbuhan anak, apalagi tayangan di tv yang akhir-akhir ini makin banyak mudharatnya. Bukannya apa-apa selan bullying tayangan di tv banyak yang menayangkan tayangan yang tidak seharusnya ditonton bocah-bocah, selain itu kemudahan akses internet juga menjadi salah satu media imitator bullying yang paling mudah. Solusi yang paling utama adalah meng keep, membatasi, memfilter apa yang kita liat di media cetak, elektronik ataupun media lainnya. Peran orang tua sangat dalam mengawasi dan menjadi guru pertama bagi sang anak karena biar bagaimanapun suka tidak suka seseorang akan di cap baik atau tidak salah satunya dari silsilah keluarganya. Terakhir kenapa gua nulis tentang bullying, karena gua sendiri pernah ngalamin hal tersebut. SD gua sering banget di bully karena gua murid pindahan dan di cap sebagai anak baru dan gak tau apa-apa akhirnya gua di suruh ini itu lah macem-macem gua disuruh ngerjain tugas lah. Tapi saat itu gua gak ngelawan karena posisi masih anak baru, males lah nyari masalah, sampe ada satu kejadian gua mencoba ngelawan sampe akhirnya berantem gitu, yaaa gua tau itu emang gak baik tapi gua nge bela harga diri gua coy. Selanjutnya SMP sama aja karena temen satu SD gua ada yang satu SMP dia nyeritain apa yang gua alami pas SD ya udah akhirnya lanjut dan gua sempet berantem lagi tapi gua kalah karena gua berantem sama preman SMP hahaaa, tapi setidaknya sejak saat itu gua udah gak pernah di bully lagi. Selain gua banyak public figure lain kok yang termasuk korban Bullying ada Tulus, Igor “Saykoji”, Milleine Fernandez, bahkan Taylor Swift. Kuncinya kalo lu jadi korban bullying lu lawan dengan cara apapun yang jelas Stop Bullying.
Oke Thanks for your
attention see yaaa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar